Wednesday, 9 December 2015

Perjuangan Nenek Tua Renta Bertahan Hidup Berjualan Sarapan Pagi

               Sang nenek saat menunggu pembeli bubur. (foto: Aceng Mukaram

Mangkok dan piring tersusun rapi. Tiga buah kursi berjejer disebuah warung berukuran mungil. Sesosok wanita berjalan bongkok.  Nurhayati. Nama lengkap penjual menu sarapan pagi itu. Puluhan tahun sudah, Nurhayati, berjualan menu sarapan pagi untuk warga. 

Sejak dini hari, perempuan kelahiran 1959, itu sibuk mencari nafkah demi untuk bertahan hidup. Sementara Sang suami sudah meninggalkannya sejak 1986 menghadap sang ilahi.

"Hari ini sepi pembeli," tutur Nurhayati, mengawali cerita. 

"25 tahun saya jualan bubur, nasi kuning, dan lontong. Kadang laku, kadang tidak," tutur Nurhayati, saat dijumpai  di tempat jualannya di Jalan Imam Bonjol Gang Haji Ali No 5 RT 001 RW 004, Kelurahan Bansir Laut, Kecamatan Pontianak Tenggara, Kota Pontianak, Provinsi Kalimantan Barat.

Nenek yang sudah lama menjanda itu tetap tegar menjalani hidup sendiri. Tanpa dibantu siapa pun, ia tetap bisa melakukan pekerjaannya dengan baik. Hal itu ia lakukan demi biaya hidup sehari-hari semakin hari, semakin mencekik.

‎"Dari jam 3 subuh saya ke pasar belanja jalan kaki .  Sudah jualan 5 subuh," ucapnya, yang sesekali tengah mencuci piring dan mangkok di parit.

Dalam sehari, sang nenek hasil dari penjualannya terkadang sendat. Sebab, sudah banyak yang jualan sarapan pagi berjejer di tempatnya. Namun, hal itu tidak membuat ia putus asa. Ia tetap berjuang. 

"Sehari kalau laku semua Rp 250 ribu. Kadang tidak laku. Modal sendiri. Mana ada bantuan dari pemerintah," ujarnya, yang memiliki anak anak laki-laki sudag berkeluarga. Namun, ia tidak mau bergantung pada anak semata wayangnya itu. Sebab, ia sadar, sang anak juga memiliki tanggung jawab menafkahi anak istrinya. (Aceng Mukaram)
Comments
0 Comments
Facebook Comments by Media Blogger

Comments+ 0 komentar:

Entri Populer